=========================================================
Ingwer
Ludwig Nommensen (1834-1918) merupakan tokoh sentral Pekabaran Injil di
Tanah Batak. Dialah yang kemudian dijuluki sebagai “Rasul Batak” yang menjadikan suku Batak Toba menjadi suku bangsa maju.
Dia
menginjakkan kaki di Barus Juni 1862, ditempatkan oleh rekan-rekan
pendahulunya di Parausorat Desember 1862, lalu menginjakkan kaki di
Silindung November 1863. Pekerjaan di perbatasan, menurutnya tidak
memadai karena dominan penduduknya sudah memeluk agama Islam. Tak ada
cara lain kecuali memasuki Tanah Batak, Silindung adalah pilihan utama
karena jumlah penduduknya sangat besar, meskipun ditentang pemerintah
Hindia Belanda, harus ditempuh melalui medan yang berat yaitu hutan
belantara yang penuh marabahaya, serta kemungkinan ditolak bahkan bisa
terbunuh.
Dr.H.Berkof dan Dr.IH Enklaar dalam sejarah Gereja mencatat, ”sungguhpun
mula-mula pekerjaannya (pekerjaan Nommensen) amat susah dan ia sering
ditimpa sengsara dan bahaya, tetapi ia bernubuat: Aku melihat seluruh
daerah ini ditaburi dengan gedung-gedung gereja dan sekolah! Sekarang
ramalan itu sudah di genapi, karena oleh strategi Zending yang cakap,
pimpinan yang kuat, pekerja yang banyak dan latihan pengantar-pengantar
jemaat dan guru sekolah dengan secukupnya dari permulaan, maka lama
kelamaan Gereja Kristus di Tanah Batak meluas sampai menjadi Gereja muda
paling besar di dunia.”
Lothar
Schreiner,dalam bukunya Adat dan Injil membuat tahapan sejarah
pengkristenan orang Batak denga merujuk pada tugas pelayanan Ingwer
Ludwig Nommensen dan di mulainya pekabaran Injil oleh RMG (Rheinische
Mission Gesellschaft) di tanah Batak.
1861-1881:
di sebut sebagai peletakan dasar-dasar pertama perkabaran Injil oleh Nommensen dan PH johansen di lembah silindung,dengan sokongan kuat dari penguasa lokal Raja Pontas Lumbantobing,di susul dengan penerjemahan kitab-kitab dasar untuk jemaat-jemaat, yakni Katekismus Kecil pada tahun 1874 dan perjanjian baru pada tahun 1878.Tata Gereja yang pengaruhnya paling dalam serta lama karena berlaku sampai tahun 1930, diberlakukan mula-mula pada tahun 1881.
di sebut sebagai peletakan dasar-dasar pertama perkabaran Injil oleh Nommensen dan PH johansen di lembah silindung,dengan sokongan kuat dari penguasa lokal Raja Pontas Lumbantobing,di susul dengan penerjemahan kitab-kitab dasar untuk jemaat-jemaat, yakni Katekismus Kecil pada tahun 1874 dan perjanjian baru pada tahun 1878.Tata Gereja yang pengaruhnya paling dalam serta lama karena berlaku sampai tahun 1930, diberlakukan mula-mula pada tahun 1881.
1881-1901:
Nommensen memindahkan tempat kediamannya ke Toba dan merencanakan
serta memimpin sendiri pekerjaannya. Didirikanlah jemaat-jemaat dalam
wilayah yang semakin luas di daerah-daerah danau Toba dan di tampung
golongan-golongan besar, sehingga terbentuklah suatu gereja suku. Pada
tahun 1885 pendeta-pendeta pertama ditahbiskan. Sampai dengan tahun 1901
sudah 48.000 orang Batak dibaptiskan.
1901-1918:
masih dicirikan
oleh prakarsa Nommensen termasuk melakukan pekabaran Injil ke Batak
Simalungun. Di Simalungun pengkristenan tidak lagi berlangsung begitu
sistematis sebagaimana terjadi di kalangan Batak Toba. Barulah setelah
tahun 1940 sebagian besar orang-orang Batak Simalungun berhasil
dikristenkan.
1918-1940:
ditandai dengan
pekerjaan J.Warneck sebagai Ephorus menggantikan Nommensen yang
meninggal dunia pada tahun 1918, melalui suatu tata gereja yang baru
membuat Gereja Batak mandiri secara yuridis. (Dalam bukunya Lothar
Schreiner menyebut HKBP dengan Gereja Batak). Barulah pada 1940 HKBP
berhasil mandiri dalam arti yang sebenarnya, yakni ketika para zendeling
jerman diinternir dan sinode memilih seorang pendeta Batak, K.Sirait
menjadi ephorus.
1940-1954:
ditandai dengan
masa pendudukan Jepang dan masa revolusi di Indonesia. Pendidikan
pendeta dan penyelenggaraan jemaat-jemaat dilakukan tanpa bantuan dan
sokongan luar negeri. Hubungan-hubungan dengan luar negeri pulih ketika
HKBP menjadi anggota yang ikut mendirikan Dewan Gereja-gereja se-Dunia
(1948) dan dengan pengakuan Iman sendiri (1951) memasuki Federasi
Gereja-gereja Lutheran se-Dunia(1952).
1954-hingga buku Gereja dan Injil,ini diterbitkan pada tahun 1972:
Ditandai dengan
didirikannya Universitas Nommensen (1954) dengan kira-kira 3.000
mahasiswa pada tahun 1971,dan suatu tata gereja baru (1962) yang
dengannya dihapuskan sinode distrik. HKBP juga mengembangkan usaha
pendidikan dan penginjilan dikalangan orang-orang Jawa di Sumatera
Timur, orang-orang Sakai di Riau, dan di Malaysia. Pada permulaan tahun
1960-an HKBP hampir mempunyai 900.000 anggota di sumatera dan banyak
jemaat di pulau lainnya dan di Singapura.
Dalam perkembangannya HKBP beberapa kali mengalami peristiwa “ditinggalkan jemaat”,
di mulai tahun 1927 dengan berdirinya Mission Batak, disusul Huria
Christen Batak (HCB), Punguan Kristen Batak (PKB), dan Huria Kristen
Indonesia (HKI). Pada tahun 1964 sejumlah anggota keluar dan menamakan
diri Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI). Atas kemelut HKBP yang
terjadi pada tahun 1990-an sejumlah anggota juga banyak yang pindah ke
Gereja lain. Menurut Almanak HKBP tahun 2007 HKBP memiliki 3.139 gereja
yang tersebar di Indonesia bahkan di Singapura dan Amerika Serikat.
Dengan jumlah lebih dari 5 juta jemaat HKBP di catat sebagai lembaga
keagamaan dengan jumlah angota terbesar ketiga setelah Nahdatul Ulama
(NU) dan Muhamadiyah.
Kehidupan Nomensen
Berbicara
tentang peradaban Batak, barangkali akan lain ceritanya jika Dr. Ingwer
Ludwig Nommensen tidak pernah menginjakkan kakinya di Tanah Batak.
Siapakah dia dan mengapa ia dijuluki sebagai “Apostel Batak”?
Nommmensen
adalah manusia biasa dengan tekad luar biasa. Perjuangan pendeta
kelahiran 6 Februari 1834 di Marsch Nordstrand, Jerman Utara itu untuk
melepaskan animisme dan keterbelakangan dari peradaban Batak patut
mendapatkan penghormatan. Maka tak heran, suatu kali dalam sidang
zending di Barmen, ketika utusan Denmark dan Jerman mengklaim bahwa
Nommensen adalah warga negara mereka, Pendeta Dr. Justin Sihombing yang
hadir waktu itu justru bersikeras mengatakan bahwa Nommensen adalah
orang Batak. Nommensen muda, ketika genap berusia 28 tahun telah hijrah
meninggalkan Nordstrand dan hidup di Tanah Batak hingga akhir hayatnya
dalam usia 84 tahun.
Masa
mudanya, ia lewati dengan menjalani pendidikan teologia (1857-1861) di
Rheinische Missions-Gesselscha ft (RMG) Barmen, setelah menerima sidi
pada hari Minggu Palmarum 1849, ketika berusia 15 tahun. Sebenarnya,
kedatangan penginjil-penginjil Eropa ke Tanah Batak pun sudah dimulai
sejak 1820-an. Pada 1824 Gereja Baptis Inggris mengirimkan dua
penginjil: Pendeta Burton Ward dan Pendeta Evans yang terlebih dahulu
tiba di Batavia. Pendeta Evans menginjil di Tapanuli Selatan, Pendeta
Burton Ward di wilayah Silindung. Sayangnya, mereka ditolak. Animesme
masih kuat dalam kehidupan suku Batak.
Sepuluh
tahun kemudian, dua penginjil Amerika: Samuel Munson dan Henry Lyman
pun tiba di Silindung. Tapi, mereka malah mendapati ajalnya di sana
setelah dibunuh oleh sekelompok orang di Saksak Lobu Pining, sekitar
Tarutung. Pembunuhan dilakukan atas perintah Raja Panggalamei. Kedua
missionaris dimakamkan di Lobu Pining, sekitar 20 kilometer dari Kota
Tarutung, menuju arah Kota Sibolga.
Impian
Nommensen untuk menjadi penginjil sudah muncul sejak kecil, meski pada
pada masa-masa itu ia sudah terbiasa hidup sederhana. Dalam
kesederhanaan itu, disebabkan orangtuanya yang tunakarya dan sering
sakit-sakitan, ia bahkan sering kelaparan karena tidak punya makanan
sehingga terpaksa mencari sisa-sisa makanan di rumah-rumah orang kaya
bersama teman-temannya. Maka, sejak usia 8 tahun pun ia sudah menjadi
gembala upahan hingga umur 10 tahun.
Tapi,
rintangan tak luput menghambat cita-cita mulia itu. Sekali waktu,
ketika berusia 12 tahun, Nommensen mengalami kecelakaan ketika
berkejar-kejaran dengan temannya dan tertabrak kereta kuda sehingga
membuat kakinya lumpuh. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain.
Ketika
dokter yang merawatnya menganjurkan agar kakinya diamputasi, ia menolak
dan meminta agar didoakan oleh ibunya dengan syarat, jika doa itu
terkabul maka ia akan memberitakan injil kepada orang yang belum
mengenal Kristus. Tak lama kemudian doa itu terkabul, ia pun sembuh.
Pada
1853, dengan keputusan yang matang, berbekal sepatu dan pakaian
seadanya, ia pun pergi meninggalkan kampung halamannya untuk meraih
cita-cita dan janjinya itu, yang juga sempat tertunda karena gagal
menjadi kolesi di pelabuhan Wick. Ia kemudian bertemu dengan Hainsen,
mantan gurunya di Boldixum. Hainsen lalu mempekerjakannya sebagai guru
pembantu di Tonderm setelah beberapa waktu menjadi koster. Di sinilah ia
bertemu dengan Pendeta Hausted dan mengungkapkan cita-citanya itu. Ia
pun melamar di Lembaga Pekabaran Injil Rhein atau RMG Barmen.
Nommensen lalu
mematangkan pengetahuannya tentang injil dengan kuliah teologia pada
1857, ketika berusia 23 tahun. Pada masa itu, pekerjaan sebagai tukang
sapu, pekerja kebun dan juru tulis sekolah, turut disambinya, hingga ia
lulus dan ditahbiskan menjadi pendeta pada 13 Oktober1861, yang kemudian
membawanya ke Tanah Batak pada 23 Juni 1862.
Nommensen, yang kini tetap dikenang dan dipanggil dengan gelar kehormatan “Ompu I, Apostel Batak”,
dalam perjalanan misi zendingnya bukanlah tanpa rintangan. Bahkan,
dalam beberapa kali ia pernah akan dibunuh dengan cara menyembelih dan
meracunnya. Alasannya, ia dicurigai sebagai mata-mata “si bottar mata”
(stereotip ini ditujukan kepada Belanda).
Tapi ia tidak takut sebab janjinya kepada Tuhan harus dipenuhi. Sekali waktu ia pun berkata, ”Tidak mungkin, seujung rambut pun tidak akan bisa diambil kalau tidak atas kehendak Allah.”
Sebelumnya, setelah resmi diutus dari RMG Barmen ia terlebih dahulu
menemui Dr. H. N. Van der Tuuk, yang sebelumnya pada 1849 telah diutus
oleh Lembaga Alkitab Belanda untuk mempelajari Bahasa Batak.
Setelah mendapatkan mendapatkan informasi lebih jauh tentang Batak, maka pada 24 Desember 1861 ia pun berangkat dengan kapal “Partinax”
menuju Sumatra dan tiba di Padang pada 16 Mei 1862. Dari sana ia
kemudian meneruskan perjalanannya ke Barus melalui Sibolga. Di sinilah
pertama kali ia bertemu langsung dengan orang Batak kemudian mempelajari
bahasa dan adatnya. Hanya saja, ia tak lama di sana. Selain karena
sudah masukya agama Islam, ia melihat adanya nilai pluraritas antarsuku
yang sudah menyatu di sana: Toba, Angkola, Melayu, Pesisir.
Maka,
setelah beberapa bulan tinggal di sana, ia pun memutuskan untuk pergi
ke daerah lain: Sipirok. Lalu, atas keputusan rapat pendeta yang ke-2
pada 7 Oktober 1862 di Sipirok (setelah sebelumnya melayani penduduk di
Parau Sorat, dan mendirikan gereja yang pertama di sana), pergilah ia
menuju wilayah perkampungan Batak yang dikenal dengan Silindung.
Di
sana, suatu kali di puncak (dolok) Siatas Barita (sekarang puncak Taman
Wisata Rohani Salib Kasih, Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara),
Nommensen pernah hendak dibunuh. Waktu itu sedang berlangsung ritual
penyembahan kepada Sombaon Siatas Barita, ialah roh alam yang disembah
orang Batak. Kerbau pun disembelih. Akan tetapi, pemimpin ritual
(Sibaso) tidak menyukainya dan menyuruh pengikutnya untuk membunuhnya.
Lalu, kata Nommensen kepada mereka, “Roh yang berbicara kepada
Sibaso bukanlah roh Siatas Barita, nenek moyangmu, melainkan roh setan.
Nenek moyangmu tidak mungkin menuntut darah salah satu keturunannya.” Sibaso jatuh tersungkur dan mereka tidak mengganggunya lagi.
Setelah
berhasil menjalin persahabatan dengan raja-raja yang paling berpengaruh
di Silindung: Raja Amandari dan Raja Pontas Lumban Tobing, maka pada 29
Mei 1864, Nommensen mendirikan gereja di Huta Dame, sekitar Desa Sait
ni Huta, Tarutung. Kemudian atas tawaran Raja Pontas, maka turut
didirikan jemaat di Desa Pearaja, yang kini menjadi pusat gereja HKBP.
Setelah
itu ia pergi ke Humbang dan tiba di Desa Huta Ginjang. Kemudian pada
1876 ia berangkat ke Toba ditemani Pendeta Johannsen dan sampai di
Balige. Tetapi, akibat situasi yang gawat waktu itu, ketika pertempuran
antara pasukan Sisingamangaraja XII dengan pasukan Belanda sedang
terjadi, mereka pun menangguhkan perjalanan dan kembali ke Silindung.
Pada
1886 Nommensen kembali ke Toba (Laguboti dan Sigumpar), setelah pada
1881 Pendeta Kessel dan Pendeta Pilgram tiba dan berhasil menyebarkan
injil di sana. Misi kedua pendeta ini kemudian dilanjutkan oleh Pendeta
Bonn yang telah mendapat restu dari Raja Ompu Tinggi dan Raja Oppu
Timbang yang menyediakan lahan gedung sekolah di Laguboti.
Pendeta
Boon pindah dari Sigumpar ke Pangaloan dan Nommensen menggantikan
tugasnya. Sepeninggalan Boon, Nommensen mendapat rintangan di mana
sempat terjadi perdebatan sesama penduduk atas izin sebidang tanah.
Setelah akhirnya mendapat persetujuan dari penduduk, ia pun mendirikan
gereja, sekolah, balai pengobatan, lahan pertanian dan tempat tinggalnya
di sana. Konsep pembangunan satu atap ini disebut dengan “pargodungan”, yang menjadi karakter setiap pembangunan gereja Protestan di Tanah Batak.
Dari Sigumpar, Nommensen bersama beberapa pendeta lainnya melanjutkan zending dengan menaiki “solu”
(perahu) melintasi Danau Toba yang dikaguminya menuju Pulau Samosir.
Maka, pada 1893 Pendeta J. Warneck pun tiba di Nainggolan, 1898 Pendeta
Fiise di Palipi, 1911 Pendeta Lotz di Pangururan dan 1914 Pendeta
Bregenstroth di Ambarita.
Misi
zending tak berhenti sampai di sana. Nommensen lalu mengajukan
permohonan kepada RMG Barmen agar misinya diperluas hingga wilayah
Simalungun. Permohonan itu ditanggapi dengan mengutus Pendeta Simon,
Pendeta Guillaume dan Pendeta Meisel menuju Sigumpar pada 16 Maret 1903.
Dari sana mereka pergi ke Tiga Langgiung, Purba, Sibuha-buhar,
Sirongit, Bangun Purba, Tanjung Morawa, Medan, Deli Tua, Sibolangit dan
Bukum. Bersama Nommensen, mereka pun melanjutkan perjalanan melalui
Purba, Raya, Pane, Dolok Saribu hingga Onan Runggu.
Misi
Nommensen memang penuh pengorbanan. Tapi, ia tulus. Demi misinya, ia
bahkan tak sempat melihat Caroline Gutbrod, yang wafat setelah
sebelumnya jatuh sakit dan terpaksa dipulangkan ke Jerman. Nommensen
juga banyak menyisakan kenangan, yang barangkali menjadi simbol
pengorbanan dan jasanya kelak. Kenangan-kenangan itu ibarat benih, meski
sang penabur kelak telah tiada. Barangkali, Gereja Dame adalah salah
satu benih itu, yang ketika penulis berkunjung ke sana, tampak kondisiya
sudah mulai usang tapi masih berfungsi. Gereja kecil itu adalah gereja
yang pertama kali didirikannya ketika menginjakkan kakinya di daerah
Silindung, Tarutung.
Lokasinya
di Desa Onan Sitahuru Saitni Huta, sekitar 2 kilometer ke arah selatan
Kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Di gereja ini, Nommensen mulai
mengajar umatnya dengan teratur. Selain mengajar Alkitab (termasuk
menerjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak), ia juga
mengajar pertanian serta mulai menyusun tata pelaksanaan ibadah gereja
dengan teratur.
Onan Sitahuru sendiri, sekitar 1816-1817 merupakan pusat perdagangan terbesar di Tanah Batak karena terdapat sebuah “hariara”
(pohon beringin) di sana. Menurut penuturan warga setempat, di pohon
inilah Nommensen pernah akan dipersembahkan kepada Dewa Siatas Barita,
tapi ia berhasil diselamatkan pembantunya. Pohon berusia 190 tahun itu
kini masih dapat ditemui di sana.
Tercatat
pula bahwa sejak tahun 1861 telah berdiri gereja-gereja kecil (resort)
di Sipirok dan Bunga Bondar atas misi zending sebelumnya. Kemudian atas
Nommensen pada 1862 di Parau Sorat, Pangaloan, Sigompulon; 1864 di
Pearaja; 1867 di Pansur Napitu; 1870 di Sipoholon, Sibolga, Aek Pasir;
1875 di Simorangkir; 1876 di Bahal Batu; 1881 di Balige; 1882 di
Sipahutar, Lintong ni Huta; 1883 di Muara; 1884 di Laguboti, 1888 di
Hutabarat, Sipiongot; 1890 di Sigumpar, Narumonda, Parsambilan,
Parparean; 1893 di Nainggolan; 1894 di Silaitlait; 1897 di Simanosor
Batangtoru; 1898 di Palipi; 1899 di Lumban na Bolon, 1900 di Tampahan,
Butar; 1901 di Sitorang; 1902 di Lumban Lobu, Silamosik, Nahornop; 1903
di Paranginan, Pematang Raya; 1904 di Dolok Sanggul; 1905 di
Parmonangan, Sipiak; 1906 di Parsoburan; 1907 di Pematang Siantar; 1908
di Sidikalang; 1909 di Bonan Dolok, Tukka; 1910 di Purbasaribu; 1911 di
Barus; 1912 di Medan; 1914 di Ambarita dan 1922 di Jakarta.
Sekarang,
benih-benih itu telah berbuah dengan lahirnya gereja-gereja HKBP, GKPI,
HKI, GKPS, GBKP dan GKPA, sebagai buah misi zending inkulturatif, yang
tidak melupakan keaslian budaya setempat dalam pelaksanaan rutinitas
ibadah. Atas jasanya itu, RMG kemudian mengangkat Nommensen menjadai
ephorus pada 1881 hingga akhir hayatnya dan digantikan oleh Pendeta
Valentine Kessel (1918-1920). Pada 6 Februari 1904, ketika genap berusia
70, Universitas Bonn menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa.
Namanya lalu ditabalkan untuk dua universitas HKBP yang ada di Medan dan
Pematangsiantar yang hingga saat ini masih berdiri.
Kemudian,
pada Oktober 1993 dibangun pula Kawasan Wisata Rohani Salib Kasih
(KWRSK) di puncak Siatas Barita, di mana ia pertama kali menginjakkan
kakinya di Silindung. Salib sepanjang 31 meter terpancang di sana,
seakan-akan melukiskan kisah karyanya yang agung.
Nommensen
wafat pada 23 Mei 1918 dan dimakamkan di sisi makam istrinya yang kedua
Christine Hander dan putrinya serta missionaris lainnya di Desa
Sigumpar, Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir. Sejak 1891 ia telah
tinggal di sana hingga akhir hidupnya. Kemudian pada 29 Juni 1996
Yayasan Pasopar, lembaga yang peduli dengan kelestarian sejarah
kekristenan di Tanah Batak, memugar makamnya dan mengabadikannya menjadi
“Nommensen Memorial”.
~~~> Follow Me on twitter
